Beliau jalan kaki tiap hari bersama kawan

Hanya ada perkiraan lisan, konon semenjak 150 tahun silam.

Belahan kami di Sungai Batang, sudah lama tidak terpantau.

Nenek pernah bercerita, ada hubungan darah kami dengan pihak bundanya Buya Hamka.

Gelar Buya Hamka, Datuk Indomo, juga ada di Lawang.

Alkisah, waktu nenek moyang dulu berangkat dari Lawang ke Sungai Batang, beberapa benda pusaka dibagi.

Di Lawang, barang antik piring-cangkir, sedangkan untuk Sungai Batang, pakaian adat sulaman nenek-nenek di Koto Tuo.

Jejak sejarah itu telah lenyap.

Keabsahannya dipertanyakan.

Sedangkan kaum-kaum lainnya, baik dari suku Tanjung maupun suku-suku lainnya di Lawang, konon menurut cerita orang tua-tua dahulu, ada yang berasal dari Kamang, Panyalaian, Lambah (Sianok), malahan ada yang dari Baruh-negari- negari sekitar Danau Maninjau.

Keabsahannya dipertanyakan

"ANDAI" (IBU) ANAK TERTUA IBU saya bernama Jawani adalah yang tertua dari enam bersaudara seibu-seayah, hasil perkawinan Haji Husin dan Rafiah.

Seperti umumnya anak-anak seangkatan saya di Lawang, saya memanggil Andai pada ibu saya.

Adik-adik Andaiadalah Basirun Datuk Rajo Mangkuto wafat tahun 1986 di Padang.

Berikutnya Zakaria Dt.

Singo Mangkuto, wafat di Jakarta tahun 1990.

Lalu Nuriana, waktu saya menulis naskah ini (2000) masih hidup, tinggal di Jakarta.

Selanjutnya Sarani wafat di Jakarta tahun 1994, dan keenam si bungsu Jawaler wafat di kampung tahun 1958.

Kakek saya Haji Husin saya panggil Tantuo.

Jumlah istri tantuo semuanya tujuh orang, tapi yang beliau pulangkan dua orang saja.

Lainnya berpisah akibat cerai atau ditinggal oleh istri yang lebih dulu meninggal.

Nenek saya Rafiah yang akrab dipanggil Rapah adalah istri ketiga.

Istri tantuo di Matur, Asal Usul dan Kaum Keraba negari, menabuh gong selama tujuh hari tujuh malam, per- tunjukan kesenian tradisional seperti pencak silat, tari piring tiupan dan dendang salung Hal lainnya, Tantuo seorang pedagang kain dari pekan ke pekan dalam daerah Kecamatan Matur dan Palembayan.

Arti- nya menggelar dagangan setiap hari pasar di dua kecamatan tersebut Dengan kemampuan keuangan beliau, anak-anaknya se- mua disekolahkan, baik sekolah umum maupun sekolah agama, tapi tidak sampai ke tingkat menengah.

Andai setelah sekolah desa tiga tahun di lantai II loods beras pasar Lawang, menyambung ke Meisjes Vervolkschool di Matur: Sekolah ini khusus untuk anak-anak gadis, dengan mata pelajaran pokok masak-memasak, jahit-menjahit, semacam Sekolah Keteram- pilan Putri (SKP).

Beliau jalan kaki tiap hari bersama kawan 

Beliau jalan kaki tiap hari bersama kawan kawan satu sekolah, dengan jarak lebih kurang 4,5 km dari rumah.

Hingga usia 99 tahun beliau masih mampu memotong dan menjahit pakaian, serta membaca dengan mata telanjang.

Beliau bisa ingat kisah-kisah lama waktu masuk sekolah, bermain-main dengan teman sebaya, menjahit, merenda, bum- bu-bumbu memasak, dan sebagainya.

Tetapi dengan soal-soal baru beliau sudah sangat pelupa.

Maunya beliau bernostalgia.

"TANTUO" HAJI HUSIN NAIK HAJI TANTUO naik haji berdua dengan kakak beliau yang kami panggil Tantuo Gadang tahun 1918, disaat Andai berusia 18 tahun.

Comments

Popular posts from this blog

Catering Jogja Murah : Cara Memilih Ham Paskah

Sewa Bus : Petualangan Perjalanan wisata di California

Di sini pun diselenggarakan judi secara bebas, ramai